Tampilkan postingan dengan label softskill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label softskill. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2014

[SOFTSKILL] Fenomena Penukaran Uang 'Receh' HARAM!

bismillah..

Saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menarik pada halaman situs tribun tentang haramnya kegiatan penukaran uang, rupiah ke rupiah, yang biasanya marak dilakukan menjelang hari raya lebaran. Berikut kutipan dari tautan diatas:

"Tribunnews.com, SAMARINDA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan praktik jual beli uang alias penukaran uang uang marak menjelang Lebaran. Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Samarinda Zaini Naim menegaskan jual beli uang masuk dalam kategori riba. Riba dalam Islam termasuk perbuatan yang sangat dikecam. Dalam kata lain, sengaja menukar uang dengan potongan tertentu itu dosa.

Biasanya, penukaran uang tersebut digunakan sebagai "angpao" Lebaran. Sehingga, penyedia jasa penukaran uang kecil dengan potongan tertentu, menjamur di waktu seminggu sebelum Lebaran.

“Pada pandangan Majelis Ulama Indonesia, pedagang seperti itu hukumnya haram. Mestinya aparat yang terkait seperti Bank Indonesia segera mengantisipasi jual beli uang seperti itu,” kata Zaini Naim, Rabu (23/7/2014).

Menurut Zaini, selama ini umat Islam menentang perdagangan uang. Tidak hanya itu, secara hukum Islam praktik perdagangan uang masuk ke dalam riba. Seharusnya, lanjut dia, umat Islam menghindari perbuatan yang sudah jelas haram. Terlebih, di Bulan Suci Ramadan.

“Hindari riba. Rasulullah mengatakan, riba itu ada 90 lebih modelnya. Riba yang paling ringan itu seperti seorang anak yang menyetubuhi ibunya. Bayangkan saja, dosa riba yang paling ringan itu seperti dosa seorang anak yang menyetubuhi ibunya,” ungkap dia.

Terutama, lanjut dia, dalam praktek jual beli uang, setiap pedagang mengambil untung yang yang relatif besar. Yakni dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu dari tiap uang Rp 100 ribu yang ditukarkan. Parahnya, para pembeli boleh melakukan proses tawar-menawar. “Sudah haram jelas tidak boleh dilakukan. Apalagi ada proses tawar-menawar,” Zaini."


pernyataan MUI tersebut jelas mengundang pro dan kontra, sebab, selain praktek pertukaran antar rupiah, ada juga praktek pertukaran valuta asing yang menggunakan prinsip yang sama, yaitu sama-sama mengambil keuntungan dari proses pertukaran tersebut. Jika proses pertukaran rupiah-rupiah ini di protes keras, mengapa pertukaran rupiah-asing/asing-rupiah tidak?

 

menurut saya, seharusnya praktek penukaran uang oleh oknum ini tidak perlu ada, karena Bank pun biasanya setiap menjelang hari raya sudah bisa melayani proses penukaran uang receh tanpa ada selisih, atau setidaknya punya selisih yang lebih murah dibanding punya si oknum itu. Logika saja,  di depan gundar itu banyak orang berderet nawarin jasa penukaran uang receh, dan uangnya itu masih dalam keadan baru, bagus-bagus, masih bau bank lagi.. nah, dapat darimana mereka kalau bukan dari bank? setelah dapat uang receh tersebut, masih mau dijual kembali pula.. apalagi yang namanya oknum itu pasti nakal, bisa-bisa emang niatnya mau cari keuntungan besar dari proses penukaran tersebut. Dengan logika seperti itu berarti sudah jelas kalaupun ada selisih dari bank, maka itu pasti lebih murah dibandingkan dengan selisih dari si oknum.

MUNGKIN ulah si oknum ini yang membuat gerah MUI sampai-sampai mengeluarkan fatwa haram, karena proses 'dagang'nya nggak beres, memanfaatkan sifat orang yang malas nukar uang ke bank, dan cenderung nyari untung besar.. meskipun dalam prinsip ekonomi itu masih wajar sih.. tapi serius, saya juga masih bingung kenapa praktek tersebut di fatwa haram? padahal, setahu saya, dalam islam itu nggak ada persenan maksimal buat keuntungan dagang lho.. karena dalam islam itu ada beberapa asas yang berlaku, seperti asas suka sama suka, asas tidak merugikan orang lain, asas tidak menipu, dan mungkin masih banyak asas-asas lagi yang saya lupa... nah, proses ini kan bisa dibilang telah memenuhi asas-asas tersebut, kan?

namun jikalau itu benar bahwa praktek tersebut haram, harusnya MUI juga mempersoalkan tentang praktel 'Money Changer' valas (valuta asing) yang menjamur di daerah wisata di kota-kota besar di indonesia. Kalau dicermati, kedua praktek tersebut nggak ada bedanya. Jika pada praktek penukaran uang receh sang oknum cari untung seenak jidat (misal nukar uang lembaran 100,000-an dengan 9 lembar 10,000-an), pada praktek penukaran valas ada sistem yang namanya 'Selisih Kurs'.. selisih kurs ini kurang lebih bisa dipahami pada contoh sederhana seperti ini:

misalnya negara kita punya hutang kepada asing sebesar $ 1,000,000,-. Pada kurs tahun 2010 misalnya satu dollar seharga sembilan ribu rupiah. itu berarti negara kita berhutang sebesar Rp.9,000,000,000 (setara $ 1,000,000) kepada asing.

misalnya hutang mandek belom kebayar sampai tahun 2014. Nah, tahun 2014 kurs satu dollar sudah mencapai 12,000 rupiah. itu berarti hutang negara menjadi Rp.12,000,000,000,- kan! nyesek juga ya.. kira-kira begitu sistem selisih kurs, sehubungan nilai mata uang itu tidak selamanya stabil, maka menurut saya untuk praktek tukar mata uang asing ini masih wajar karena patokannya selalu berubah-ubah.

nah, kalau pertukaran asing yang menggunakan sistem 'selisih kurs' kan sudah jelas alasannya darimana mereka ambil 'untung', kalau praktek penukaran uang receh ini masih belum jelas takaran 'selisih' nya, bisa beda-beda tergantung yang menyediakan jasa. Tapi, sekali lagi saya ingatkan, meskipun menurut saya praktek penukaran uang receh oleh oknum ini seharusnya tidak ada, namun orang kecil seperti para penjaja jasa penukaran uang receh ini pun berhak menikmati THR lebaran versi mereka masing-masing.. dan menurut kacamata orang awam seperti saya ini, mereka-mereka ini hanya memanfaatkan momen lebaran dan kesempatan saja, mumpung orang-orang sedang sibuk ngurusin mudik, tidak sempat ke bank, yang biasa jual makanan mumpung lagi libur jualan karena puasa, itung-itung nambah penghasilan buat sekolah anak, buat makan anak istri, buat nyambung hidup aja udah syukur alhamdulillah..

 

tapi pendapat mengenai haram tidaknya praktek penukaran uang receh ini kembali pada diri dan hati nurani masing-masing.. pro kontra selalu ada dan perdebatan tidak akan berhenti.

 

Alhamdulillah selesai satu tulisan lagi, tema nggak jauh-jauh dari pro dan kontra yang berkaitan dengan dunia perbankan :lol:

mudah-mudahan nilai softskill saya bagus ya bu :shy:

 

Minggu, 20 Juli 2014

[SOFTSKILL] Berbagai "Keunggulan" Bank Syariah + Analisa

Bismillah...

Berdasarkan artikel yang saya dapat dari situs web beritasatu mengenai berbagai keunggulan bank syariah dibandingkan dengan bank konvensional, saya jadi tertarik untuk membahas dan menganalisa tiap-tiap keunggulan dari bank yang "lahir" pada tahun 1991 di Indonesia yang dipelopori oleh Bank Muamalat ini. Apakah bank syariah ini lebih unggul dari bank konvensional karena jargonnya "bebas riba"? atau malah justru bank syariah ini tidak ada bedanya dengan bank konvensional yang sama-sama melakukan praktek riba?

Adapun rangkuman mengenai keunggulan bank syariah adalah sebagai berikut:

1. Fasilitas Selengkap Bank Konvensional

meski poin ini termasuk kedalam salah satu keunggulan dari Bank Syariah, tapi menurut saya ini tidak termasuk kedalamnya, alasannya adalah karena setiap bank yang ada harus memiliki fasilitas yang memudahkan para nasabah untuk melakukan berbagai macam transaksi melalui berbagai macam media seperti datang langsung ke bank, datang ke mesin ATM, atau menggunakan layanan mobile dan electronic banking. Dengan adanya alasan-alasan tersebut nampak terlihat bahwa tidak ada perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional dari segi fasilitas, sehingga pada poin ini tidak ada yang saling mengunggulkan diri.

 

2. Manajemen Finansial yang Lebih Aman

poin kedua bisa jadi menjadi salah satu keunggulan dari bank syariah mengingat kejadian pada tahun 2007 yang saya kutip dari tautan beritasatu diatas: "Tragedi finansial kredit subprime tahun 2007 nyaris tidak menggoyahkan investasi yang berbasis syariah. Di saat banyak bank investasi dan bank-bank besar bangkrut maupun membutuhkan kucuran dana, banyak Bank Syariah baru yang justru bermunculan atau buka cabang.". Namun sekali lagi perlu diperhatikan faktor yang memicu pertumbuhan dari bank syariah tersebut, apakah benar karena manajemen finansial yang lebih aman? belum tentu. Berdasarkan keterangan yang saya dapat dari situs web tempo, dikatakan bahwa, masih ada perusahaan yang menawarkan investasi bodong dengan embel-embel syariah di bank ternama yang patut diwaspadai. Namun tidak perlu khawatir karena jika dibandingkan antara berita kasus penipuan antara bank syariah dengan bank konvensional, jumlah penipuan dalam bentuk investasi pada bank syariah jauh lebih sedikit dibandingkan kasus-kasus yang ada pada bank konvensional.

 

3. Anda Berkontribusi Langsung Memperkuat Bank Syariah

poin ini bisa dikatakan tepat. Dikutip dari tautan beritasatu diatas: "Bank Syariah memberikan nisbah (“bunga” simpanan) berdasarkan perkembangan finansial perusahaan. Secara tidak langsung Anda menjadi “pemegang saham” di Bank Syariah Anda. Setiap simpanan Anda akan memperkuat investasi bank. Setiap pinjaman Anda akan memperkuat keuntungan bank. Semakin usaha Anda berkembang, bank juga semakin berkembang karena kredit yang diberikan menggunakan skema bagi-hasil. Semakin maju bank, semakin banyak pula keuntungan bank yang dapat dibagikan sebagai nisbah kepada para nasabah."

Nisbah sendiri bisa dikatakan proses bagi hasil antara bank dengan nasabah. Proses ini dibagi sesuai rasio tertentu, seperti contoh yang saya dapat melalui situs web mysharing, terdapat tata cara menghitung nisbah yang menghasilkan rasio 70:30 keuntungan untuk nasabah, yang dengan kata lain bank mendapat keuntungan sebesar 30% yang dapat menimbulkan pertanyaan, apakah 30% itu termasuk riba?

 

4. Membantu Orang yang Butuh Dizakati

poin ini tepat dikatakan sebagai keunggulan bank syariah dibandingkan bank konvensional, karena sebagai umat muslim kita wajib menunaikan zakat, dan dengan berinvestasi di bank syariah kita secara tidak langsung akan berzakat karena tiap tahun bank syariah wajib berzakat minimal 2.5% dari keuntungan. Bank konvensional pun bisa berzakat, namun tidak ada peraturan yang mewajibkan mereka untuk melakukannya. Jadi, sudah selayaknya jika ada rasa ingin membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan melalui zakat, berinvestasi melalui bank syariah ini bisa jadi pilihan.. tapi jangan lupa kita juga harus berzakat.. jangan mentang-mentang sudah berinvestasi di bank syariah lantas kita melupakan kewajiban zakat itu sendiri.

 

5. 100 Persen Halal

poin ini banyak menimbulkan pro dan kontra, pasalnya tidak ada suatu perusahaan yang tidak mencari profit. maksudnya? yang ingin saya katakan adalah bank mengambil untung dari bunga, lantas yang ada pada bank syariah itu sebenarnya hanyalah bunga yang sudah ganti nama (menjadi "bagi hasil"). jika merujuk pada Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.. itu artinya, jika bank syariah menggunakan sistem bunga dengan 'kedok' sistem bagi hasil, maka bank syariah telah melakukan riba, dan riba itu haram, sehingga bank tersebut tidak menggunakan sistem yang murni 100% halal. Yang menarik menurut saya adalah, sistem bagi hasil ini melalui proses kesepakatan antara pihak nasabah dan pihak bank, bisa 70:30, 65:35 dsb. Jadi ujung-ujungnya bank mengambil keuntungan dari pinjaman nasabah. Sebagai contoh nasabah meminjam 10 juta, lalu melalui proses kesepakatan rasio tadi (biasa disebut dengan akad), didapatlah sang nasabah untuk mengembalikan pinjaman sebesar 12 juta yang dapat dicicil perbulan, katakanlah 1,2 juta setiap bulannya. Dari contoh tersebut sudah jelas bahwa bank syariah mencari untung 2 juta dari pinjaman nasabah. Nah dengan demikian apa bedanya bank syariah dengan bank konvensional? toh sama-sama melakukan praktek riba? bedanya hanya terletak pada kesepakatan di awal saja :evil:

 

demikian analisa dari saya selaku orang yang awam betul dari dunia perbankan.. adapun kesimpulan yang ditulis oleh pak Ahmad Sarwat selaku konsultan Rumah Fiqih Indonesia dalam situs web nya, rumahfiqih, dapat mewakili uneg-uneg saya mengenai bank syariah ini:

"Bagi yang 100% meyakini haramnya 'bunga' di bank syariah, bukan berarti bunga bank di bank konvensional berubah jadi halal. Bunga bank konvenional tetap masih 100% haram dan tidak berubah jadi halal. 

Namun bila kedudukannya sama-sama haram dan semua pintu yang halal tertutup sudah, masuk akal kalau ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa pilihannya adalah haram yang madharatnya paling ringan, yaitu yang bunganya lebih rendah. Jadi pinjam uang dari bank konvensional tetap haram, tetapi lebih rendah nilainya.

Namun pendapat ini tentu saja tidak disetujui oleh semua pihak, khususnya para pendukung bank syariah. Menurut mereka, kalau sama-sama haram, tetap harus pinjam dari bank konvensional.

Dan perdebatan tidak pernah berhenti."

 

demikian apa yang dapat saya tulis apa adanya, tulisan ini murni 100% "karangan" sendiri yang didukung oleh pendapat dari berbagai tautan sumber yang ada (bulan puasa nggak boleh bohong :evil: ). saya selaku penulis menyadari bahwa saya masih jauh dari kebenaran, dan tulisan ini dibuat semata-mata hanya ingin mengeluarkan rasa penasaran saya antara perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional, sekalian itung-itung nambahin nilai softskill :lol:

 

Jumat, 09 Mei 2014

[SOFTSKILL] Bank Syari'ah

Perbankan syariah atau perbankan Islam  adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional tidak dapat menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya dalam usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau hiburan yang tidak Islami, dan lain-lain.


Meskipun prinsip-prinsip tersebut mungkin saja telah diterapkan dalam sejarah perekonomian Islam, namun baru pada akhir abad ke-20 mulai berdiri bank-bank Islam yang menerapkannya bagi lembaga-lembaga komersial swasta atau semi-swasta dalam komunitas muslim di dunia.



Perbankan syariah memiliki tujuan yang sama seperti perbankan konvensional, yaitu agar lembaga perbankan dapat menghasilkan keuntungan dengan cara meminjamkan modal, menyimpan dana, membiayai kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai. Prinsip hukum Islam melarang unsur-unsur di bawah ini dalam transaksi-transaksi perbankan tersebut:

  1. Perniagaan atas barang-barang yang haram,

  2. Bunga (ربا riba),

  3. Perjudian dan spekulasi yang disengaja (ميسر maisir), serta

  4. Ketidakjelasan dan manipulatif (غرر gharar).


Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional adalah sebagai berikut:








Bank Islam

  • Melakukan hanya investasi yang halal menurut hukum Islam

  • Memakai prinsip bagi hasil, jual-beli, dan sewa

  • Berorientasi keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam)

  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan

  • Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah



Bank Konvensional

  • Melakukan investasi baik yang halal atau haram menurut hukum Islam

  • Memakai perangkat suku bunga

  • Berorientasi keuntungan

  • Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kreditur-debitur

  • Penghimpunan dan penyaluran dana tidak diatur oleh dewan sejenis



Afzalur Rahman dalam bukunya Islamic Doctrine on Banking and Insurance (1980) berpendapat bahwa prinsip perbankan syariah bertujuan membawa kemaslahatan bagi nasabah, karena menjanjikan keadilan yang sesuai dengan syariah dalam sistem ekonominya.

 

//* bank-bank swasta di indonesia hampir semuanya sudah menerapkan sistem syari'ah, yang bisa memberi rasa nyaman dan aman bagi nasabahnya yang beragama islam dari hal-hal yang tidak diinginkan atau bersifat haram seperti riba. Namun perlu diwaspadai juga, bahwa tidak semua bank syari'ah itu benar-benar syar'i. Ada juga beberapa bank swasta lokal yang melakukan tindakan yang "tidak pantas" selagi menggunakan kedok syari'ah.

 

 

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Perbankan_syariah

[SOFTSKILL]Demo Naik Gaji = Inflasi

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.

Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.

Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal, yaitu : kenaikan harga, misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi


tuh liat.. bodohnya para kaum tertentu yang selalu menuntut kenaikan gaji secara massal, mau nggak mau akan menciptakan inflasi. Jadi percuma gaji naik, tapi harga barang kebutuhan juga naik. Lebih elok jika kaum tertentu bekerja dengan sungguh-sungguh, siapa tau bisa dikasih bonus sama atasan.. rejeki nggak kemana, nggak usah dipaksa. :lol:

Kamis, 09 Januari 2014

Analisa DFD ngaco (episode 2)

troll-pizza

Setelah terjadinya kesalah pahaman dalam pengerjaan tugas analisa springer yang TERNYATA gambar DFD tidak boleh ada yang sama untuk setiap individu, terpaksa (nggak juga sih) gue menganalisa DFD orang. tentang apa ini DFD dan bagaimana alur data-datanya menuju.

Langsung aja nih secara garis besar ini DFD menceritakan tentang proses pemesanan salah satu jenis makanan impor yang gue gak terlalu doyan, namanya Pizza.

Sebelum memulai analisa, bagi orang yang memiliki mata yang jeli dan pemikiran cermat pasti akan merasakan ada yang aneh dalam DFD diatas. Keanehan tersebut bisa dilihat pada notasinya, yang beda dari bentuk DFD secara umum seperti DFD yang ada pada postingan sebelumnya (yang boleh ngambil dari springer). Yang bikin beda adalah bentuk dari notasi System(Process) dan Customer. Kalau dalam bentuk umumnya notasi System digambarkan dengan simbol lingkaran sementara Customer digambarkan dengan simbol persegi, maka dalam apa yang terlihat pada notasi Yourdon/DeMarco ini merupakan kebalikan dari bentuk umum tersebut (alasan ngaco, but I think it's true). Jadi, tidak ada perdebatan diantara kita mengenai kesalahan dalam penggambaran notasi DFD. Sepakat.

 

Baiklah sekarang gue mulai analisanya. Seperti biasalah, atas nama keadilan gue bakal mulai dari Proses nomer satu, "Enter Sales Orders". Proses ini merupakan proses dimana pesanan penjualan dimasukkan. Artinya, seorang pelanggan melakukan transaksi pada Proses#1 ini. Jadi wajar, kalau Proses#1 membutuhkan data "Sales Order" atau pesanan penjualan dari entitas eksternal "Customer". Proses ini bertindak seperti perantara yang mengantarkan data dari Customer tadi yang berupa pesanan penjualan ke database "Sales Orders" yang menyimpan pesanan² dari para pelanggan. Dari sini, pesanan penjualan tadi diantarkan menuju Proses#2, "Organize Manufacturing Schedule".

 

Proses#2 ini bisa disebut kegiatan pengaturan jadwal produksi. Itu artinya, pada proses inilah kegiatan produksi dimulai. Proses ini membutuhkan data dari database "Stock" berupa Stock Quantities, yang artinya kurang lebih jumlah persediaan. Jika pesanan penjualan dan jumlah persediaan barang telah masuk, Proses#2 akan menghasilkan data berupa Production Schedule. Nah data tersebut akan masuk kedalam database "Production Schedules" sebelum akhirnya masuk ke Proses#3, "Make Pizzas".

 

Proses#3 ini anak SD jaman sekarang juga tau, Pembuatan Pizza. Disini, "aktor utama" DFD ini akan dibuat. Kalau mau bikin Pizza enak, tentu nggak boleh asal; harus terstruktur dan teratur agar cita rasa terjaga. Untuk itulah dibutuhkan resep, yang disimpan dalam database keempat kita, "Recipes". Data yang dikirim dari database ini tentu saja resep itu sendiri. Proses#3 ini sekarang sudah memiliki dua input penting, yaitu jadwal produksi dan resep, lantas menghasilkan data berupa pizzas manufactured (pizza yang udah jadi) dan raw materials requisition (seperti.. surat izin permintaan bahan baku) yang masuk ke database "Stock" (persediaan). Masuk akal kan, pizza yang udah jadi masuk ke "Stock" yang berarti sudah tersedia, sekaligus memesan bahan baku baru untuk pesanan selanjutnya. Lanjut, database "Stock" ini akan menghasilkan output berupa raw material quantities (yaitu jumlah bahan baku yang tersedia pada database ini) dan pizzas in stock (yaitu jumlah pizza yang tersedia) kedalam Proses#7, "Determine Raw Materials Required". Tapi itu nanti dulu, sekarang kita masuk ke Proses#4 sesuai urutan!

 

Proses#4 adalah "Order Raw Materials" yang berarti kegiatan pemesanan bahan baku. Kemana? ya ke Supplier (ya iya..). Untuk bisa berjalan, Proses#4 membutuhkan data dari Proses#7 berupa Raw material required (bahan baku yang dibutuhkan). Proses ini kemudian akan menghasilkan data berupa Purchase order requested (pembelian pesanan yang diminta) ke entitas eksternal "Supplier" serta database "Purchase Orders". Entitas Supplier kemudian akan menghasilkan data berupa Stock quantities yaitu jumlah persediaan barang (dari supplier) yang kembali masuk ke Proses#4 ini. Setelah barang masuk, Proses#4 akan mengirimkan data kembali berupa Purchase order fulfilled yang berarti pesanan sudah terpenuhi, kedalam database "Purchase Orders". Setelah semuanya beres, Proses#4 menghasilkan data berupa Raw material quantities (jumlah bahan baku) yang dimasukkan kedalam database kedua kita, "Stock". Dengan demikian proses pembuatan pizza telah selesai.

 

Proses#5 adalah "Deliver Sales Order". Jelas tujuannya, proses ini merupakan kegiatan pengiriman pesanan penjualan. Proses#5 membutuhkan data berupa Sales order dari database "Sales Order". Proses ini kemudian akan mengirimkannya kepada entitas "Customer" sebagai penerima. Setelah semuanya beres, Proses ini akan mengirimkan output berupa Delivery note (catatan/bukti pengiriman) kedalam database "Delivery".

 

Dari database "Delivery", akan keluar Delivery note yang masuk kedalam Proses#6, "Obtain Payment" atau penerimaan pembayaran. Proses ini akan mengirimkan Invoice (sejenis dokumen berisi daftar barang² yang berhasil dikirim) dan Receipt (Kwitansi) kepada Customer. Sebagai "timbal balik" Customer mengirimkan data berupa Payment details (Detail pembayaran) yang akan masuk kedalam database ketujuh, "Payment".

 

Proses#7 secara garis besar menggambarkan kegiatan Menentukan jumlah/jenis bahan baku yang dibutuhkan. Selain jumlah bahan baku dan pizza yang telah tersedia, Proses ini membutuhkan satu masukan lagi yaitu pesanan penjualan dari database pertama, "Sales Order". Ini bertujuan agar proses tidak "bingung" dan meminimalisir terjadinya kesalahan pada Proses itu sendiri. Dengan ketiga masukan tersebut, lahirlah data berupa Raw materials required (bahan baku yang diperlukan) yang akan masuk ke Proses#4!

 

Siklus seperti ini terjadi tanpa terikat waktu, artinya bisa terus-terusan nggak berhenti-berhenti, atau bahkan nggak jalan sama sekali. Tidak jelas karena DFD tidak memiliki patokan/keterangan kapan proses-proses akan dijalankan. Dan menurut analisa saya.. karena ada "Flow mendetail" pada DFD ini seperti Payment details dan purchase order fulfilled, DFD ini termasuk level 2 diagram (bener gak sih?)

yah after all (cie) sistem sudah komplit serta lengkap dan saya rasa tidak ada kekurangan sedikitpun. Sekian analisis ngaco dari seorang yang masih butuh belajar lebih dalam lagi.. semoga bisa memberi ilham buat semua pembaca bahwa DFD itu nggak serumit yang dilihat, cukup butuh kesabaran dan ketelitian dalam "menerawang" setiap prosesnya sesuai urutan.

 

Kamis, 02 Januari 2014

Ini "Analisa" Springer (Ngaco Edition)

springerLOL

Kali ini gue mau coba melakukan "Analisa" untuk jurnal Springer yang berhasil *teman* gue temukan entah darimana. Dilihat dari judul figure/gambar nya sih, ini merupakan DFD untuk Sistem Manufaktur Diskrit, atau bahasa gampangnya, mungkin "Sistem Pabrik Terpisah" <-- ini google translate :lol:

gue coba menjelaskan, sebenarnya kalo udah ngerti nggak ribet-ribet amat kok. langsung aja, biar adil kita mulai dari Proses nomer 1, yaitu "Receive & record both product and m/c status" apa tuh m/c? m/c itu singkatan dari Machine. jadi jelas ya, maksud Proses disini adalah "Menerima dan merekam/mendata status dari produk dan mesin". Proses#1 ini menghasilkan dua buah output. Pertama adalah Product's position yang berarti mungkin posisi/letak produk, yang masuk kedalam Database "Product History" (mungkin ini berarti database yang merekam jejak produk yang dihasilkan) serta Database "Current Product Position" yang mungkin berisi data tentang produk terbaru; dan Machine Status yang berarti Status Mesin, yang masuk kedalam Proses#7 "Verify Machine status" (Proses verifikasi mesin). Oh iya, BTW ini proses ada berkat hasil dari entitas eksternal "Machine Station" (ibarat kata ini stasiun penyimpanan mesin) yang berupa Machine Status serta Product's Position yang merupakan hasil dari sensor(mesin)... Stop sampai sini dulu! mari kita lanjut ke proses nomer 2.

Sekarang kita masuk ke Proses nomer 2, "Monitor the position of all products to identify collisions" maksudnya, proses pemantauan posisi semua produk untuk mengetahui adanya bentrok. Nah, proses ini membutuhkan data dari Database "Production Track" yang berisi informasi detail tentang produk tersebut. Hasil Monitoring/Pemantauan dari proses ini masuk kedalam Database "Current Product Position" dan "Product being Manufactured" (Program tentang produknya yg sedang diproduksi massal). Hasil pemantauan ini juga bakal masuk ke Proses nomer 6, "Produce reports & Warnings" (menghasilkan laporan & kesalahan jika ada). Stop! nanti gue bakal jelasin lagi tentang Proses#6 ini. Jangan nangis! ea..

Sekarang kita masuk ke Proses nomer 3, "Monitor the postion of all products to check them against the production plan".. BUSET panjang bener! artinya kira-kira proses pemantauan posisi letak semua produk untuk menyocokkan dengan rencana produksi. Gitu deh. Proses ini membutuhkan data dari Database "Current product position" untuk mendapatkan informasi mengenai posisi produk; serta data dari Database "Production Scheduling Plan" (Rencana penjadwalan produksi) untuk mengetahui posisi yang diharapkan saat produksi. Nah, hasil dari proses ini akan masuk ke Proses#6 tadi. Proses ini juga menghasilkan "sesuatu" kedalam Database "Job" yang membawa informasi bahwa pekerjan telah selesai. Database "Job" ini mengantarkan "sesuatu" tadi menuju Proses berikutnya, Proses#4! booyah!!

Sekarang kita masuk ke Proses nomer 4, "Update production plan" atau bisa diartikan sebagai proses pembaharuan rencana produksi. Proses ini butuh data dari Database "Current product position" untuk mengetahui posisi produk saat ini (ya iya..). Proses ini nantinya akan menghasilkan data yang bakalan masuk kedalam Database "Production Scheduling Plan" tadi, berupa "completed job in product plan" yang berarti Pekerjaan yang telah selesai dalam rencana produksi. Lanjut deh..

Sekarang kita masuk ke Proses nomer 5, "Change & identify production details" yang artinya Proses merubah dan identifikasi detail produksi. Proses ini butuh data dari entitas eksternal "Production Controller" atau pengendali produksi (ini bukan avatar, lagipula produksi itu bukanlah elemen). BTW entitas eksternal ini tidak akan dibahas lebih detail lagi, sorry ya. Uhuk.. proses ini menghasilkan data yang masuk kedalam Database "Production scheduling plan" tadi berupa Perubahan untuk rencana produksi, serta kedalam Database "Product being Manufactured" berupa hal yang sama (Perubahan, red). See? kayaknya udah mulai keliatan darimana dan bakal kemana data-data ini mengalir nih!

Sekarang kita masuk ke Proses nomer 6, "Produce reports & warnings". Dalam proses ini bakal terjadi adegan reproduksi.. halah. Proses ini berupa kegiatan untuk menghasilkan laporan dan kesalahan (produksi) jika ada. Proses ini membutuhkan data mengenai produk terkait yang diambil dari Database "Product being manufactured" serta data mengenai data yang diperlukan untuk mengetahui produk yang salah sasaran/salah kirim atau terlambat produksi masuh memenuhi kriteria perencanaan produksi atau tidak, dari Proses#3. Proses ini juga membutuhkan data berupa 'Posisi letak produk yang sudah ada dan produk yang tertunda maupun di produksi ulang' dari Proses#2~ wow! semuanya saling berhubungan, dunia (DFD) memang sempit -,- | Proses ini juga membutuhkan data berupa "Production floor layout" dari Database yang bernama sama. Lanjut deh!

Sekarang kita masuk ke Proses nomer 7, "Verify machine status" yang artinya proses verifikasi status mesin. Masih ingatkan sama kejadian di Proses#1? ini lanjutannya nih. Status mesin yang merupakan dari Proses#1 ini masuk ke Proses#7, menghasilkan status mesin yang valid/SAH karena telah di-SAH-kan oleh Proses#7 (sah? sah? Alhamdulillah.. emangnya penghulu!). Status mesin yang valid ini masuk kedalam entitas eksternal "Production controller". Seperti yang gue bilang, kalo gue jelasin tentang avatar (pengendali) ini, gue gak akan mau. soalnya kalo ditulis pasti malah bikin bingung karena avatar ini merupakan penghubung "penting" dari proses-proses DFD disini. Bisa disimpulkan sendiri kalau entitas eksternal ini akan menghasilkan data yang akan masuk ke Proses#5, membutuhkan data dari Proses#6, dan sebagainya, yang mana sudah dijelaskan secara "ngaco" pada paragraf-paragraf sebelumnya. Harap maklum!

Nah akhirnya kita masuk ke Proses nomer 8, "Move Products from queue" maksudnya, proses ini menggambarkan kegiatan pemindahan produk (yang dihasilkan) dari antrian barang. Proses ini butuh "Produk" (ya iya..) dari Database "Queue" (Antrian) dan Proses#8 ini menghasilkan data berupa posisi letak produk yang akan dibawa kedalam entitas eksternal bernama "Sensor" atau #$*%# (maksudnya Pemindai barang, haha). Entitas eksternal ini menghasilkan Posisi Produk yang bakalan masuk kedalam Proses#1, "Receive & record both product & m/c status". HOREE.. HOREE.. selesai penjelasannya.

Kesimpulan yang bisa gue ambil bahwa, DFD ini menggambarkan alur data yang cukup rumit dan seperti nggak ada habisnya (muter-muter terus) ya karena wajar, soalnya DFD tidak mengenal waktu dan kapan proses ini dieksekusi. Tapi sistem yang memakai DF ini gue rasa cukup mantab dan tob markotob banget karena struktur alurnya "kokoh" dan jelas, hampir tidak ada kekurangan/kelemahan yang bisa dicari-cari lagi. Sekian dan terimakasih telah mampir, membaca, mencoba memahami, meninggalkan komentar, menyukai postingan, membagi postingan, serta MEMBERI NILAI softskill buat gu.. saya! Thanks..

sumber: bingung saya, ini gambar yang nyari temen saya (nitip) tapi saya jamin ini asli dari Springer! --> http://link.springer.com/article/10.1007/s10270-006-0013-0

Selasa, 15 Oktober 2013

Rangkuman Sistem Informasi Akuntansi Bab I-IV

 

 

akhirnya selesai juga broooh!!
bonus gan



langsung saza.. selamat menikmati rangkuman dalam bentuk .pdf

file bersumber langsung dari komputer saya, tidak copy-paste 

saya membuat dengan microsoft word 2010 untuk kemudian mengkonversikannya kedalam bentuk pdf melalui situs layanan pdf converter gratis

kenapa pdf? karena pada file yang saya buat mengandung banyak sekali tabel-tabel yang dibentuk oleh fitur SmartArt, dan bukanlah tidak mungkin kalau anda mendownload file ini dalam bentuk docx tampilan dokumen akan berantakan karena pengaturan/versi microsoft office word kalian pasti beda-beda.

pernahkah kalian membuat dokumen di rumah, kemudian ingin mencetaknya di warnet, tapi tampilan dokumen di warnet berbeda dengan tampilan di rumah? misalnya jarak spasi yang berantakan, diagram yg tidak terlihat, dan lain sebagainya.. kira-kira inilah yg jadi alasan kenapa saya lebih memilih pdf daripada docx :D

untuk rangkuman bab I - IV bisa langsung kalian download pada lampiran ini

rangkuman SIA -ukurannya hanya 900 KB saja! uwooooooow waaaaaaaw

# untuk pak Rooshwan Budi.. please pak cek tugas saya dengan cara mendownloadnya pak :(
soalnya kalo ditulis pake teks jadi ancur dan membosankan.. malah nggak enak bacanya pak.. dan menurut saya rangkuman itu seharusnya dibuat semenarik mungkin, supaya yg baca juga enak.. terimakasih atas waktunya telah berkunjung kesini pak.. mudah-mudahan bisa dapat nilai.

 

Minggu, 09 Juni 2013

Fenomena Ajang Pencarian Bakat -_-

ya, pencarian bakat -_- gue masih inget banget nih pertama kali Indonesia mulai latah sama acara beginian pas dulu jamannya Indosiar nayangin AFI alias Akademi Fantasi Indosiar. acara ini merupakan pentas pencarian bakat menyanyi pertama yang gue tonton semenjak lahir di Indosiar.. eh Indonesia. ini acara udah lama banget, tapi bertahan kalo gak salah sampe 4-5 seasons. antusiasme masyarakat dulu meriah banget, sampe ada Tas sama Kaos sablonan gambar kontestan AFI ini (duh ngakak dulu gue ahahaa). gile bener, bisa gue bilang dulu AFI termasuk acara sukses di masanya, meskipun entah bagaimana nasib pemenangnya sekarang

 

sebagai orang yang pernah kuliah di komunikasi tapi sekarang pindah jurusan ke MI gundar, gue paham sama antusiasme masyarakat begini–yang bisa bikin rating naik. dan gue pasti prediksi kalau masyarakat demennya yang berbau luar negri, biar keren katanya. makanya waktu itu gue yakin RCTI itu jeli dan pastinya langsung sigap kontrak franchise Idol sama simon cowell, terbentuklah Indonesian Idol. mulai deh tuh diceritain semua dari audisi sampe grandfinal. ini acara bisa bertahan sampe season 6. canggih juga. setelah ini di RCTI makin banyak aja tuh acara serupa, sebut saja Idola Cilik dan The Master..

 

pada waktu yang hampir bersamaan, TPI (dulu) juga nggak mau kalah dengan acara Kontes Dangdutnya, bagus sih, original, dan gue yakin banyak yang nonton nih, yaah.. walaupun gue hampir nggak pernah nonton kontes dangdut gini kecuali pas audisi doang sih. nah, semenjak itu mulai banyak deh acara sejenis yang bermunculan di TPI ini, termasuk Akademi Pelawak TPI juga, terus adalagi Ajang Boyband TPI (serius ini) lagi, gue rasa TV 7 (dulu, sekarang Trans7) juga nggak mau kalah. tim kreatif langsung bikin konsep yang oke banget waktu itu, sampe akhirnya bikin acara Dream Band yang berhasil mengorbitkan “KotaK” sebagai pemenang! nostalgia sejenak, konsep acara ini mengaudisi vokalis, gitaris, keyboardis, bassis, drummis..drummer! baik amatir maupun profesional, untuk kemudian di karantina, lalu dipilih oleh juri untuk membentuk sebuah band baru, sumpah keren banget ini acara!

 

kemudian, lama setelah itu, indosiar menayangkan salah satu franchise “Got Talent”, yang kebetulan waktu itu dia nayangin antara “America Got Talent” sama “Britain Got Talent”. pada awalnya sih gue tertarik nih liat acara begini, seru banget ngeliat peserta beradu keahlian untuk menarik perhatian pemirsanya. lagian, bakat mereka itu nggak cuma unik, tapi juga total, alias nggak nanggung nanggung. tapi sayangnya jadwal penayangan acara beginian nggak tentu.. diulang-ulang terus, sampe bosen dan akhirnya gue memutuskan untuk berhenti nonton ginian di TV, nontonnya di youtube ajah.

 

nggak lama setelah itu, gue denger acara tersebut udah nggak tayang lagi, atau paling nggak antusiasme masyarakat sama acara tersebut udah nggak semeriah dulu. dan entah kapan dan darimana asalnya, muncul lagi di Trans itu, acara indonesia mencari zakat.. eh bakat, bersama supermie :berbusa (sponsor segala disebut) ini acara ngikutin Got Talent banget, dari tahap audisinya juga sama persis. parah nih.

di waktu yang bersamaan juga, Indosiar menayangkan franchise RESMI dari Got Talent, yaitu Indonesia Got Talent, tapi SAYANG BANGET, mungkin tim kreatif kurang maksimal kerjanya, sehingga acara yang harusnya meledak di pasaran ini harus kalah sama ajang pencarian bakat “kacangan” milik trans. mohon maaf kalo salah-salah kata, cuma opini kok. dan yang masih anget-anget tokai ayam, adalah franchise resmi yang dikasih nama X-Factor.. parah nih awalnya sih oke ya, tahap audisi suaranya keren-keren, pasti bakal seru nih. tapi lama-lama kok…? dan saingan X-Factor waktu itu adalah The Voice Indonesia milik indosiar, namun sayangnya acara ini kurang terekspose media, padahal gue yakin bisa bersaing ketat antara keduanya, tapi nyatanya nggak.

 

ya itulah sekilas tentang perjalanan kelatahan indonesia terhadap ajang pencarian bakat, kalo di perhatikan semua pencarian bakat tersebut menggunakan system voting melalui SMS. sebenarnya gue nggak setuju ada acara pencarian bakat tapi yang nilai dari voting SMS, elu bisa bayangin siapa sebenarnya pihak yang tertawa puas. kalo mau main itung-itungan, silahkan aja. misalkan elu SMS 2000 perak sekali kirim, dengan patokan acara eliminasi dilakukan tiap minggunya, nah paling enggak elu 200 kali SMS perharinya biar jagoan elu nggak pulang kampung(FYI, acara voting dibuka selama 1 minggu setelah-sebelum babak eliminasi selanjutnya) itu kira-kira 1400 SMS ya, yang paling enggak bisa menghindari posisi “degradasi”. itu udah abis sekitar 2,800,000! seminggu! elu bayangin tuh, berapa orang peserta kontes? taro lah tahap awal ada 32 orang. berarti sekitar 89,600,000 masuk kantong provider (ngakak gue.. huakakaka) belum lagi kalo tiba masanya ketika seharusnya ada yang tereliminasi, tapi nyatanya nggak ada yang pulang. ada kan? “SELAMAT MALAM INI TIDAK ADA YANG PULANG” penonton kegirangan, “WOOOOOOOOAAAAHHHH!!!” tapi mereka nggak sadar, sudah 1 minggu full voting SMS dukungan yang seharusnya bisa memulangkan lawan, tapi nyatanya sang lawan tidak jadi pulang malam itu. gimana? sia-sia itu voting SMS nya, kan? yah.. puluhan juga masuk kantong provider lagi.. (huakakaka)

 

gila, selain itu, yang gue benci dari sistem voting SMS ini adalah bahwa orang tolol juga bisa menang, asalkan LOLOS AUDISI (karena kasian, atau karena pake jilbab?) dan di backing oleh keluarga atau orang-orang yang iba (karena kasian, atau karena pake jilbab?) yang rela beli pulsa untuk memberikan dukungan SMS. wakakaka.. gue jamin pasti menang! karena apa? lagi-lagi pengamatan seorang mantan mahasiswa komunikasi, pihak penyelenggara punya satu Trump Card yang bikin dia anteng-anteng saja jika dilabrak tidak becus karena menggunakan voting SMS: “Ini suara rakyat Indonesia tercinta, biarkan mereka yang memilih, kami buat acara ini demi rakyat, agar mereka terhibur”. padahal sebenarnya, “This is Business”. Ternyata karena Negara kita Negara demokrasi.. apa-apa harus musyawarah dulu, termasuk musyawarah lewat SMS.. ha ha!

 

 

 

logikanya seperti ini:

 

-jika penyelenggara menggunakan sistem vote, otomatis masyarakat seluruh indonesia harus nonton dulu baru bisa milih. dengan begini, rating stasiun TV bisa naik, dan bakal kebanjiran Iklan bro! $$$!

 

-jika selera rakyat itu menang, maka mereka pasti rela nonton acara itu lagi sampai jagoannya gugur, kalo bisa sih mereka harus ngotot supaya jagoannya nggak pulang pulang. dengan begini, rating bisa dipastikan naik, dan mau nggak mau mereka harus SMS, nah.. kali ini provider yang ketawa geli dibalik layar.. “geli.. geli.. duit 80 juta masuk kantong geli… geli..”

-namun jika penyelenggara menggunakan sistem profesional yaitu penjurian, maka bisa dipastikan acara bakal sepi income, alias ngga ada pemasukan extra dari SMS. positifnya rating bisa naik sedikit, tergantung jumlah orang waras di indonesia yang mau nonton acara berkualitas bukan sekedar acara abal-abal.

ini yang dimaksud bisnis terselubung, ngeri, karena masyarakat nggak sadar lagi diperes kayak jemuran abis dibilas. income SMS bisa lebih dari 90 juta perminggu, belum dari sponsor dan iklan. sementara biaya operasional yang nggak terlalu tinggi plus hadiah buat pemenang yang nanti dipotong pajak ternyata nggak seberapa. inilah potret industri dunia hiburan kita, KUALITAS NO, KUANTITAS YES!

 

sorry ngelantur, masih pagi nih udah dipaksa nulis aja (kejar deadline tugas kurang dari 24 jam)

Selasa, 01 Mei 2012

Konflik

Terjadi percakapan telpon antara dua orang pimpinan dari sebuah perusahaan Kimia.
” Saya tidak perduli berapa banyak pekerjaan anda ” Bill vice presiden bidang pemasaran dan penjualan berkata, ” American Stell adalah salah satu pelanggan utama kita. Saya mengatakan kepada mereka bahwa dalam waktu dekat kita akan memberikan solvent atas produk mereka ”.

” Saya mengerti posisi anda Bill ” berkata Gary vice presiden bidang penelitian dan pengembangan, ” tetapi saat ini kami pun memiliki selusin proyek penting yang kami harus selesaikan secepatnya, jadi tolong anda sampaikan pada American Stell bahwa kita akan memberikan solvent mereka bulan depan ”.

” Kalau begitu keadaannya maka kita akan kehilangan mereka” kata Bill kepada Gary. ” Kami mohon maaf, kami tidak bisa berbuat apa apa, jika hal ini mengecewakan anda telponlah Henry[presiden perusahaan] dan katakan padanya bahwa kelompok litbang membutuhkan staff yang lebih banyak”.
Berdasarkan uraian diatas :
1.Apakah telah terjadi konflik ? Bila telah terjadi konflik, jenis konflik fungsional atau disfungsional yang terjadi ?
2.Apa saran anda agar konflik yang terjadi menguntungkan organisasi ?

***

1. disfungsional karena terjadi konflik kecil yang bisa menghambat kinerja perusahaan.

2. Bill si wakil direktur pemasaran harus bertanggung jawab atas ucapannya yang menjanjikan sesuatu secara sepihak sementara Gary si wakil direktur pengembangan dituntut untuk memenuhi janji Bill kepada kliennya inilah yang menjadi konflik. Meskipun begini, konflik yang terjadi bisa saja membalikkan keadaan menjadi konflik yang menguntungkan, logikanya, jika:

 

-Gary dkk lebih mementingkan melayani American Steel daripada selusin proyek yang ada. maka kemungkinan lusinan proyek itu akan gagal dan ditolak karena proyek2 tersebut juga dituntut untuk selesai secepatnya. keuntungan sedikit (jika dibandingkan, 1 proyek dengan 12 proyek kan gedean 12) namun berlangsung lama, dan perusahaan akan merugi jika sisa proyek2 itu gagal.

-Gary dkk memiliki selusin proyek untuk diselesaikan secepatnya. jika ini di prioritaskan lebih, maka kemungkinan kehilangan American Steel menjadi lebih besar. keuntungan menjadi besar karena 12 proyek terselesaikan dengan baik, namun kehilangan pelanggan utama.

 

Bill harus mengabarkan American Steel tentang penundaan pemberian Solvent kepada produk American Steel. jika negosiasi berhasil, maka dua keuntungan bisa diambil perusahaan.

jika  negosiasi gagal, salah satu harus dikorbankan terkait terbatasnya jumlah pekerja,. agar konflik ini menjadi fungsional harusnya Gary dkk mengutus sebagian pekerjanya untuk melayani American Steel demi menjaga long-term partnership, dan sebagian lagi menyelesaikan sisa proyek berdasarkan prioritasnya (dari 12 proyek itu pasti punya prioritas sendiri kan)

 

 

btw pada tau gak solvent apa?

solvent (from the Latin solvō, “I loosen, untie, I solve”) is a liquid, solid, or gas that dissolves another solid, liquid, or gaseous solute, resulting in a solution that is soluble in a certain volume of solvent at a specified temperature. Common uses for organic solvents are in dry cleaning (e.g., tetrachloroethylene), as a paint thinner (e.g., toluene, turpentine), as nail polish removers and glue solvents (acetonemethyl acetateethyl acetate), in spot removers (e.g., hexane, petrol ether), in detergents (citrus terpenes), in perfumes (ethanol), nail polish and in chemical synthesis. The use ofinorganic solvents (other than water) is typically limited to research chemistry and some technological processes. =Wikipedia

 

Selasa, 20 Maret 2012

FIFA

capek saya tiap minggu dapet tugas softskill terus. bukan apa-apa, masalahnya saya ini lagi kena gejala typhus ditambah lagi tekanan darah saya rendah, makin susah aja ngerjainnya.

terpaksa demi TUGAS, saya melanggar prinsip saya yaitu 100% NO COPY-PASTE! ternyata prinsip saya goyah demi nilai softskill yang kalo ga A,B, atau E (kalau ga salah sih gitu ya)

catatan sedikit: saya copas gambar, akronimnya FIFA, sama keterangan english nya aja loh ya, sisanya alhamdulillah tulisan sendiri.

***

CONTOH ORGANISASI: FIFA (Fédération Internationale de Football Association)


LANGSUNG SAJA

Sabtu, 10 Maret 2012

Terima Tawaran atau Tetap Pada Komitmen?

update tugas softskill, klik Continue reading untuk melihat soalnya, atau bisa juga klik Page List Tugas yang berada persis dibawah banner atas

Rabu, 28 Desember 2011

The Poorly-managed Company

THE UNMANAGED COMPANY

A few weeks before graduating from business school, Pablo Cervantes began his job search in San Diego, California area. While he was reading through the classified advertisements, his eye caught one ad in particular.

“Energetic, go-getter wanted to join newly formed firm in the waste disposal field. We anticipate 500 percent growth in the first few years. Person joining our team must forget about constraints and roles imposed by most firms. Write us about yourself, Box 7654, this newspaper.”

Thinking “what can I lose?” Cervantes sent in his letter and resume. Much to his surprise, he received a telephone call about one week later. Marty Berg, the caller, said the represented Solar Waste and would like to meet Cervantes. The two men arranged a convenient time. Cervantes followed the directions to a cinder-block building in a fringe area of the city.

Berg escorted Cervantes to a corner of virtually empty building. They sat on two battered chairs adjacent to a work table. “Don’t let the appearances deceive you”, said Berg. “We’re into something big around here. We have one-million dollar contract up front the experiment with a new sun-driven solid waste disposal system. It is the wave of the future. The ad said we expect a 500 percent growth in the first few years, but that a conservatives estimate. The co-founder of the firm is a scientific genius. She thinks that she has the right idea to cure the waste-disposal problems in any sunny climate”.